Siswi SMP Jual Diri Rp 500.000 demi Kuota Internet, cek selengkapnya
Kamis, 06 Agustus 2020
Edit
Ketua KPPAD Kepri Erry Syahrial mengaku prihatin dengan munculnya lagi kasus eksploitasi seksual di kalangan remaja di Kota Batam.
Setelah sebelumnya, dia awal pandemi Covid-19 juga ada kasus serupa yang melibatkan bebebapa remaja di sebagai korban dan pelaku eksploitasi seksual.
"Ini menunjukkan bahwa kasus eksploitasi seksual terhadap anak mulai meningkat menimpa remaja dan pelajar," kata Erry melalui telepon ke Kompas.com, Rabu (29/7/2020).
"Ini harus diwaspadai dan dipahami oleh orangtua, guru, masyarakat dan anak itu sendiri,” lanjutnya
Faktor penyebab eksploitasi seksual anak: kurang kasih sayang, pengaruh teman dan soal ekonomi
Menurut Erry ada beberapa faktor anak bisa menjadi korban eksploitasi secara seksual, yang pertama faktor dari internal anak itu sendiri yang rentan.Dimana kerentanan anak disebabkan oleh pemahaman anak yang kurang, kurang perhatian dan kurang kasih sayang orangtua.
“Selain itu pengaruh kelompok teman sebaya yang juga menjadi korban duluan, juga paling rentan dialami anak-anak,” papar Erry.
Kedua, faktor ekonomi, dimana anak akan meniru gaya hidup hedonis serta lainnya.
‘’Akibatnya anak gampang ditipu, dibujuk rayu, diiming-imingi mendapatkan sesuatu oleh pelaku,’’ jelas Erry.
Faktor ini bisa diperparah kalau keluarganya juga termasuk rentan. Misalnya kurangnya pengawasan orangtua pada anak, bermasalah dalam pola asuh, faktor ekonomi dan lainn
Namun disisi lain, penggunaan handpohone dan media sosial tanpa pengawasan pada anak remaja bisa disalahgunakan untuk hal-hal negatif dan membahayakan keselamatan anak.
‘’Di dunia perlindungan anak, ternyata kehadiran teknologi 4.0 telah mendekatkan pelaku kejahatan dengan korban anak. Saat ini banyak muncul kejahatan pada anak berbasis teknologi atau dipermudah dengan adanya handphone, media sosial dan lainnya,’’ papar Erry.
Dari hasil monitoring dan evaluasi kasus-kaksus anak yang terjadi di Kepri, Erry menyimpulkan bahwa saat ini peningkatan kasus anak banyak dipicu oleh kehadiran teknologi informasi dan internet.
Bahkan hasil telahaan KPAI juga demikian terhadap kasus-kasus anak yang terjadi di Indonesia. Ada perubahan tren kasus anak dari modus dan medianya konvensional ke arah media siber.
‘’Di dunia perlindungan anak, ternyata kehadiran teknologi 4.0 telah mendekatkan pelaku kejahatan dengan korban anak. Saat ini banyak muncul kejahatan pada anak berbasis teknologi atau dipermudah dengan adanya handphone, media sosial dan lainnya,’’ papar Erry.
Bahkan hasil telahaan KPAI juga demikian terhadap kasus-kasus anak yang terjadi di Indonesia. Ada perubahan tren kasus anak dari modus dan medianya konvensional ke arah media siber.